GMKI PADANG
Breaking News GMKI Padang:

Diskusi Bersama Kakanda Senior Yan Winen Sipayung (Ketua Cabang GMKI Padang MB. 1990 - 1992)

PenulisGMKI Cabang Padang on 27/09/15 | Minggu, September 27, 2015

26/09/2015 Berdiskusi bersama kakanda senior Yan Winnen Sipayung, SP (Ketua Cabang GMKI Padang Masa Bakti 1990-1992).
Pada perjumpaan kali ini beliau berbicara mengenai dinamika GMKI Padang diera tahun 90'an. Banyak kejadian - kejadian yang
Lalu diakhir kata abang itu menyampaikan bahwa GMKI Padang harus menjadi motor/penggerak ke Kristenan di Kota Padang dan untuk GMKI Padang harus tetap Eksis.

menguji pergerakan GMKI Padang ketika itu, misalnya isu kristenisasi. namun kejadian tersebut tidak memecahkan kekompakan dan konsentrasi pergerakan GMKI Padang di tiga medan layannya Masyarakat, Gereja dan Perguruan Tinggi.
Read more »»  

Ibadah Bulanan GMKI Padang

PenulisGMKI Cabang Padang on 25/09/15 | Jumat, September 25, 2015







24/09/2015 Ibadah Bulanan GMKI Padang. Ibadah Bulanan GMKI Padang kali ini bertempat di Gereja Sidang Jemaat Allah Maranatha Padang. nats khotbah diambil dari Efesus 6 : 10 - 20.
Pelayan Firman kali ini adalah Pendeta Luvi Widyati S.Th. M.Th. beliau menyampaikan bahwa dalam proses menjalani hidup akan banyak pergumulan yang kita hadapi terkhususnya ketika kita menjadi seorang mahasiswa misalnya mulai dari uang belanja yang habis, nggak punya kendaraan untuk berpergian dan banyak hal lain. namun diatas semuanya itu jika kita menghadapi pergumulan tersebut jangan pernah melupakan Tuhan dan kenakanlah segala perlengkapan rohani (11. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;)
Selain itu juga dalam proses beraktivitas dalam perkuliahan ataupun beraktivitas dalam pekerjaan sehari hari, musuh yang kita hadapi bukanlah melawan darah dan daging tetapi juga melawan segala bentuk penguasa - penguasa, pemerintah- pemerintah yang cenderung mengandalkan kekuasaannya untuk memenuhi hawa nafsunya. artinya apa??? kita dituntut untuk menegakkan keadilan ditengah - tengah kehidupan kita (12. karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.13. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.14. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan)
kemudian dalam konteks ber GMKI tentu kita adalah orang - orang yang terpilih untuk membawa berita kebenaran dan mengimplemantasikan ajaran - ajaran ke Kristenan ditengah - tengah kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. dalam proses melakukan hal tersebut kita harus berangkat dari roh - roh kebenaran dan keadilan serta kebulatan hati/kerelaan diri (14. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,15. kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;). selain itu beranilah dalam menyatakan yang seharusnya dinyatakan (20. yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.)
Demikian ibadah Bulanan GMKI Cabang Padang Kali ini, semoga kegiatan ini bermanfaat dalam menumbuh kembangkan keimanan kita kepada Yesus Kristus Sang Kepala Gerakan serta dapat mengimplementasikannya di Gerakan yang kita cintai ini.
Persaudaraan Yang Menghidupkan
UT OMNES UNUM SINT
Read more »»  

Formulir Masa Perkenalan 1 (MAPER) GMKI Padang Tahun 2015

PenulisGMKI Cabang Padang on 16/09/15 | Rabu, September 16, 2015


Untuk Mengisi Formulir Maper 2015.  Silahkan Klik disini

Read more »»  

SEJARAH GMKI CABANG PADANG


Pembentukan GMKI Cabang Pada awalnya telah di inisiasi sejak tahun 1984, hal tersebut ditandai dengan surat Permohonan Pembentukan Cabang GMKI oleh ketujuh anak muda pada masanya kepada Ketua Umum PP GMKI pada tanggal 11 Januari 1984.
Kemudian PP GMKI menanggapi hal ini dengan mengangkat ketujuh orang ini sebagai Tim Pembentukan Calon Cabang GMKI Padang melalui surat keputusan nomor : 180348/SU/Int/IV/1984 tertanggal 16 April 1984 yang ditandatangani oleh Alex Litaay sebagai Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan dan Sunggul Siahaan sebagai Sekretaris Umum PP GMKI pada masa itu.
Sejak itu, dilakukan terus proses-proses komunikasi dan konsolidasi pembentukan cabang kepada seluruh pihak terkait. Pada bulan Oktober  Nopember 1984 dilaksanakan pengkaderan calon pengurus GMKI di Padang.
Adapun Ketujuh inisiator pembentukan cabang GMKI di Padang ;

Read more »»  

STRUKTUR BADAN PENGURUS CABANG

STRUKTUR PERSONALIA
BADAN PENGURUS CABANG
GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA – PADANG
MASA BAKTI 2015 – 2017

Ketua Cabang
Rikki Fernando Sinaga
Ketua Bidang Organisasi
Kardinal Siregar
Ketua Bidang Pendidikan Kader dan Kerohanian
Pernando Simbolon
Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan
Septina E. Samosir

Sekretaris Cabang
Susi Santri Sianturi
Sekretaris Fungsi Informasi dan Komunikasi
Roberto Sibarani
Sekretaris Fungsi Organisasi
Natalia Naibaho
Sekretaris Fungsi Pendidikan Kader dan Kerohanian
Lamtiar Septriani Silalahi
Sekretaris Fungsi Gereja
Tiodora Sinaga
Sekretaris Fungsi Masyarakat
David Waruwu
Sekretaris Fungsi Perguruan Tinggi
Sannaida Chatrine Simbolon

Bendahara Cabang
Melodi Naibaho
Wakil Bendahara
Wiselina Nazara





Read more »»  

Hidup Manusia Dalam ke Kristenan

PenulisGMKI Cabang Padang on 27/09/13 | Jumat, September 27, 2013

Hidup Manusia Dalam ke Kristenan
Oleh : Rikki Fernando Sinaga

          Banyaknya persoalan kehidupan yang sering kita hadapi membuat kita bertanya-tanya mengenai apa itu hidup. Apalagi, banyak teori-teori yang menjelaskan tentang kehidupan. Akibatnya, kita sering terombang-ambing dalam pertanyaan kita sendiri. 
          Apa sih hidup itu ? sebuah pertanyaan yang memang begitu sederhana terkadang membuat kita pergi dan menjauhi Tuhan.  Hidup merupakan sebuah kata yang sangat dahsyat diatas kata cinta. Tetapi dengan  kelebihan manusia yang diberikan oleh penciptanya yaitu akal pikiran, membuat manusia  menilai kehidupan dengan sudut pandang yang bersifat rasional dan ada juga  manusia  menilai kehidupan dengan menggunakan kecerdasan emosional spiritual yang memang sudah tertanam sejak seorang manusia hadir dalam sebuah kehidupan.
Read more »»  

Formulir Pendaftaran Masa Perkenalan (MAPER) GMKI Cabang Padang Masa Bakti 2014.

PenulisGMKI Cabang Padang on 09/09/13 | Senin, September 09, 2013


Untuk Mengisi Formulir Maper 2014.  Silahkan Klik disini

Read more »»  

Proposal Pemberdayaan Masyarakat Desa, 2013 Di Kepulauan Mentawai

PenulisGMKI Cabang Padang on 29/07/13 | Senin, Juli 29, 2013

Proposal Pemberdayaan Masyarakat Desa, 2013 Di Desa Malacan Kabupaten Kepulauan. Mentawai

Read more »»  

POTENSI DESA BAGI KADERISASI DI GMKI

PenulisGMKI Cabang Padang on 21/06/13 | Jumat, Juni 21, 2013


POTENSI DESA BAGI KADERISASI DI GMKI[1]
Oleh : Mantan BPC Periode 2007-2009[2]



PENGANTAR
Bosan sudah saya dan barangkali kita semua dalam terlibat pada pembicaraan tentang Negara Indonesia (Negara dimana kita adalah warganya) yang sesungguhnya kaya namun realitas kehidupan bangsanya menjadi ironi dari kekayaannya itu. Terutama dalam kita memandang kebijakan pemerintah yang menawarkan akan menaikkan harga BBM pada tahun 2013. Kemiskinan masyarakat yang selalu direlasikan dengan potensi sumber daya alam yang melimpah pasti menjadi referensi mengkritisi rencana pemerintah. Di sisi lain, si pemerintah, entah karena motivasi apa, padahal telah diberikan kewenangan dalam UU nomor 19 tahun 2012 untuk menaikkan harga BBM untuk mengantisipasi lonjakan subsidi akibat naiknya harga Minyak Dunia tetapi masih tetap saja mewacanakan rencana kenaikan harga BBM yang kemudian masuk dalam pro-kontra perdebatan.
Dalam banyak perdebatan itu, sinisme akhirnya menuntut pada praktek (karya) apa yang bisa dilakukan kita selain berjibaku dalam jebakan pro-kontra itu. Sekalipun sebenarnya, hal-hal yang menyangkut karya atau kerja yang dapat dilakukan sebaiknya tidak menjadi respon sinis dalam perdebatan, namun diarahkan menjadi lanjutan dari perdebatan itu sendiri. Oleh karenanya, respon saya atas respon sinis dalam perdebatan rencana kenaikan harga BBM itu lebih saya maksudkan sebagai wacana tindak lanjut.
Yang saya maksud wacana tindak lanjut di sini bukan difokuskan pada kita mau buat apa setelah rencana kenaikan harga BBM. Namun lebih berorientasi pada upaya mengevaluasi dinamika organisasi GMKI dalam pelayanannnya terutama di wilayah XIII yang meliputi Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau. 

GMKI DAN GEJALA IMPOTENSINYA
          Sampai saat ini, dari sekian banyak organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) maka organisasi-organisasi seperti GMKI dan yang lainnya yang tergabung dalam Kelompok Cipayung masih diakui sebagai organisasi yang paling konsisten dalam kaderisasinya. Karena memang organisasi-organisasi mendeklare diri sebagai organisasi kader, maka wajar bila mereka memprioritaskan diri pada upaya pengkaderan sehingga menjadi wajar pula bila kaderisasinya masih tetap berjalan. Namun saya mulai ragu, apakah proses yang dilakukan itu adalah kaderisasi.
          Keraguan saya ini disebabkan terutama karena banyaknya desas-desus kaderisasi yang berjalan (terutama) di GMKI utamanya diindikasikan dengan Maper sebagai program pokok nan wajib lalu pergantian kepengurusan yang selalu ada penggantinya (tidak pernah kekurangan orang yang mau menjadi pengurus organisasi). Bagi saya apa yang ‘dijadikan’ indikator dari kaderisasi seperti itu justru mendegradasi makna kaderisasi itu sebagai regenerasi belaka. Ternyata keraguan saya itu benar dan menjadi gejala GMKI secara nasional yang dapat saya baca dari agenda Kongres XXXIII GMKI di Kota Manado pada bulan Oktober 2012 lalu masih saja ada yang mempermasalahkan PDSPK 2006 sebagai tidak atau kurang aplikatif. Dengan alasan dari waktu ke waktu yang mirip bahkan sama, yaitu persoalan fasilitator, sertifikasi, tidak efektifnya ToT dan tetek bengek lainnya.
          Di sisi lain saya melihat matinya (atau dengan bahasa yang lebih halus, redup) fungsi manajerial dalam tubuh GMKI. Tandanya sederhana saja yaitu ‘lintang-pukang’ nya panitia-panitia baik dalam persoalan pemenuhan kebutuhan dana dan berantakannya konsolidasi untuk mempersiapkan kegiatan atau program. Keadaan ini benar menjadikan setipa orang terlibat dalam kepanitiaan atau pelaksana program menjadi punya pengalaman dalam urusan mental, mengingat motivasi-motivasi yang diberikan dalam hal ini adalah seputar keyakinan bahwa Yesus Sang Kepala Gerakan pasti menyertai, bahwa GMKI bukan adalah gemeinschaft bukan Gesselchaft atau sekalipun tertatih-tatih maka kegiatan GMKI pasti berjalan. Saya pikir dalam dunia yang semakin ‘gila’ ini, tuntutan bagi kader GMKI bukan hanya menjadi spiritual maupun milatan saja, namun juga aspek ke-profesional-an nya juga harus digeber.
          Dalam beberapa Konperensi Cabang maupun Kongres yang saya hadiri, persoalan evaluasi organisasi pun tidak terukur. Percakapan tentang laporan keuangan direduksi menjadi sekedar urusan transparan atau tidaknya pengurus padahal seharusnya urusan ini bisa selesai dengan keberadaan Badan Pemeriksa Keuangan sebagai pengawas dengan tugasnya yang memeriksa keuangan. Sementara dalam prespektif akuntabilitas, laporan keuangannya seharusnya bisa menjadi alat untuk mengukur kinerja kepengurusan. Saya juga (maaf) prihatin dengan laporan keuangan yang disajikan PP GMKI pada website organisasi yang seolah-olah hanya ingin mengatakan “Bang, Kak, ini lho uang kalian sumbangkan kami pergunakan untuk keperluan organisasi”. Padahal dalam hasil pemeriksaan BPK PP GMKI pada Kongres XXXIII terhadap laporan keuangan yang sangat berantakan jelas merekomendasikan agar laporan keuangan PP GMKI selanjutnya harus sistematis dan disesuaikan dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Bila keadaan laporan keuangan PP saja begitu, maka tentulah kita sangat tidak bisa berharap banyak terhadap baiknya laporan keuangan BPC maupun komisariat.
          Itu masih dalam konteks internal organisasi. Belum kita membahas persoalan bahwa mantan ketua/sekretaris cabang kelak proyeksinya bagaimana? Saya pikir pertanyaan begini sudah pantas dipertanyakan untuk memikirkan proyeksi kader-kader pasca ber-GMKI mengingat sebaran senior-senior GMKI yang sudah sangat meluas di seluruh nusantara dalam ragam bidang atau spesifik keahlian profesi. Imajinasi liar saya sering berkelana dalam pikiran bahwa nanti setelah purna jadi ketua cabang GMKI maka yang bersangkutan dipantaskan dirinya oleh GMKI untuk menjadi manajer bila ia bekerja di perusahaan atau ia berani membangun perusahaan dengan segala link yang sudah dimilikinya. Atau bila ia pernah menjadi BPK GMKI maka ia dipantaskan untuk menjadi auditor atau supervisor yang handal dan berkarir dengan sangat cepat. Atau bila ia pernah menjadi ketua bidang maka ia dipantaskan menjadi staf ahli yang disenangi pekerjaannya, dan lain sebagainya. Imajinasi yang liar ‘ndak beketentuan’ itu saya yakini akan dapat terwujud, entah kenapa saya kok yakin.
          Keadaan yang saya sebutkan di atas saya lihat dalam kecenderungan sebagai gejala GMKI yang menjadi ritualis. Maper menjadi ritual agar menjamin ‘ketersediaan’ anggota GMKI sehingga tidak BPC tidak percaya diri melaksanakan seleksi dalam menetapkan pantas atau tidaknya seseorang menyandang predikat kader GMKI. Konpercab atau kongres menjadi ritual yang boros uang sehingga tidak penting apa yang menjadi terobosan atau sejauh mana progresifitas organisasi menjadi catatan sehingga yang paling digemari adalah proses pemilihan ketua dan sekretaris. Atau laporan keuangan menjadi ritual untuk senior percaya ‘mendermakan’ uangnya ketimbang menjadi investasi sosial sehingga sembah sujud syukur pun dilakukan ketika pemerintah kota memberikan bantuan satu juta rupiah untuk satu tahun anggaran. Ritual-ritual organisasi yang cenderung begitu saya pikir adalah wujud hilangnya potensi organisasi sehingga rasanya layak saya sebut sebagai gejala impotensi.

MEDIA MAGANG DARI PROSES KADERISASI ITU BERNAMA DESA BINAAN
          Sampai hari ini saya berharap bahwa saya adalah satu dari ribuan kader GMKI yang ‘bernafsu’ meneruskan masa depan di desa. Sekalipun pilihan saya ini karena hilangnya percaya diri untuk meniti karir menjadi elit akibat ranah elit yang sempat saya masuki sangat kabur antara bisnis dan politik serta abdi nya, saya berharap banyak yang lainnya memilih desa karena demikian panggilannya.
Setelah menikmati sejuknya hawa pedesaan, saya terpikir tentang hubungan yang kongkret antara desa (sekalipun jauh dari kota) dengan proses pengkaderan di GMKI. Kok bisa?
Gejala-gejala impotensi dalam indikasi aktifitas organisasi yang terkesan ritualis yang saya sebut di atas itu saya pikir butuh ‘obat kuat’ atau penyegaran orientasi organisasi. Dalam hal ini obat kuat bagi masalah ini sebenarnya sudah ada. Obat kuat itu bernama PDSPK 2006 yang sudah dikonsumsi sejak tahun 2006. Tapi karena begitu akutnya kecenderungan aktifitas organisasi, sampai obat kuat yang dikonsumsinya pun tidak diyakini mampu menyembuhkan. Padahal dokter sendiri pun meyakini bahwa yang terpenting dari minum obat itu bukan manjur atau tidaknya obat itu tapi sejauh mana pasien itu yakin bahwa obat yang diminumnya dapat menyembuhkan. Saya pikir semua kader GMKI tahu lah bahwa kekuatan air ponari itu lebih dikarenakan sugesti dari dalam diri orang yang meminumnya.
Lalu, bila obat tidak mampu, apa langkah lain?
Saya mendapati diskusi-diskusi yang dibangun GMKI terutama di Padang dan Wilayah XIII tidak senikmat diskusi pada masa-masa awal saya bergabung di GMKI dulu. Saya masih ingat dulu, rasanya tidak puas dan seperti ketinggalan bila tidak hadir di warung Da Jay (warung makan tempat berkumpulnya aktifis mahasiswa di Kota Padang) pada malam hari. Di situ kita dipaksa keadaan untuk buka suara, berargumen bahkan berdebat malah kadang saling maki. Tetapi selalu ada pencerahan dari setiap diskusi yang topiknya tentu tidak pernah ditetapkan sebelumnya. Namun di zaman teknologi informasi yang sangat canggih ini momen-momen seperti itu sudah konversi menjadi komunikasi tidak langsung. Sehingga kenikmatan merasakan getaran nada suara seseorang, tekanan psikologis dari tatapan lawan bicara, paksaan untuk memasang air muka yang tenang dan upaya memaki namun tidak mendapat sakit hati, terampas oleh kecanggihan dunia baru bernama native digital era. Yang paling terasa adalah menguatnya model komunikasi untuk sekedar eksis tanpa makna. Akibatnya proses-proses berorganisasi cenderung tidak menarik dan memperlemah konsolidasi organisasi itu sendiri. Untuk mengatasi hal ini (tidak menariknya organisasi) saya sudag pernah sharing dengan beberapa pengurus untuk menerapkan strategi dansa dan bir.
Kader GMKI menjadi kurang latihan. Atau cenderung seperti katak dalam tempurung karena kesempatan untuk membawa nama baik organisasi dalam pertemuan mahasiswa lintas organisasi menjadi sangat minim,
Oleh karenanya desa dapat menjadi salah satu alternatif penyegaran orientasi organisasi. Desa dengan masyarakat yang cenderung homogeny dalam segala keterbatasannya dapat menjadi laboratorium bagi kader GMKI untuk melatih diri. Di sana GMKI dapat hadir sebagai pemberdaya yang membawa pencerahan bagi masyarakat desa dalam ragam aspek kehidupan apakah sosial politik, ekonomi, spiritualitas, kebudayaan dan lain-lain.
Mumpung mahasiswa (sekalipun tidak setinggi dulu) masih diapresiasi sebagai kaum terpelajar dengan kadar pengabdian yang masih murni saya pikir momen ini perlu dijadikan peluan. Di sana di desa, kader-kader GMKI dapat melatih kemampuan public speaking nya, dapat mempraktekkan kemampuan berpikir metodologisnya dengan mencoba mengamati kecenderungan masyarakat, memetakan permasalahan yang terjadi di sana lalu menganalisisnya dan memikirkan apa alternative jalan keluar dari masalah yang ditemukan. Di sana kader GMKI juga dapat melatih membangun opini masyarakat melalui komponen dan struktur masyarakat yang tersedia. Bahkan juga dapat mendesain serta merealisasikan gerakan bersama dalam masyarakat.
Di sana di desa, kader GMKI dituntut untuk menjaga nama baik organisasi. Hal ini secara otomotais akan menumbuhkan kesetian dan loyalitas kader tehadap organisasi. Tuntutan menjaga nama baik organisasi dan alamater mahasiswa juga memaksa mereka untuk tampil sempurna (perfect) di hadapan masyarakat sehingga tidak terlihat bego atau asal-asalan. Hal ini dengan sendirinya akan membuat kader berupaya keras untuk memenuhi kebutuahan (semisal penguasan bahan yang akan dipropagandakan) dengan banyak membaca atau mencari sumber-sumber lainnya. Dan yang lebih penting, desa yang cenderung tertinggal dari kota ini dapat membuat kader dekat dengan realitas kerakyatan Indonesia sehingga (mudah-mudahan) dapat memacu adrenalin nasionalisme atau cinta tanah airnya, hal ini dapat dilanjutkan dengan urusan mental atau integritas kader.
Akan sangat baik lagi bila pengurus di tingkatan cabang (BPC) sebagai penanggungjawab keberlangungan kaderisasi dapat merelasikan program bakti sosial atau pemberdayaan masyarakat desa atau desa binaan dengan strategi formal kaderisasi. Sehingga menjadi nyatalah desa binaan atau pemberdayaan masyarakat desa sebagai laboratorium kaderisasi formal yang direncanakan dan dapat dievaluasi untuk diserifikasi. Hal ini sangat mungkin melihat PDSPK 2006 GMKI yang lebih berorientasi pada penguatan aspek afektif dan psikomotorik ketimbang aspek kognitif pada level awalnya itu.

PENUTUP
          Semoga tulisan yang sangat sederhana dan berantakan ini dapat menginspirasi dan memberikan pencerahan bagi GMKI terutama di Padang dan Wilayah XIII. Yesus Kristus memberkati.



[1] Berbagi suntuknya pikiran untuk GMKI di wilayah XIII
[2] Korwil XIII PP GMKI Masa Bakti 2010 -2012
Read more »»  

Gempa 5,3 SR Guncang Pesisir Selatan Sumatera Barat

PenulisGMKI Cabang Padang on 13/06/13 | Kamis, Juni 13, 2013

Padang (GMKI PADANG)-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Geofisika  Sumatera Barat melaporkan telah terjadi gempa bumi berkekuatan 5,3 skala richter mengguncang Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dan daerah sekitaranya pada Selasa, pukul 09.30 WIB.

Menurut informasi data dari laman resmi BMKG Stasiun Padang Panjang tersebut, pusat gempa berlokasi 1.73 Lintang Selatan, 100.24 Bujur Timur. dengan pusat 62 kilometer bagian barat daya kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada kedalaman 10 kilometer.

Kekuatan gempa 5,3 skala richer yang terjadi di Painan  juga di rasakan di Kota Padang yang hanya berskala kecil,dan tidak menimbulkan kerusakan.


Read more »»  

Camping Cipayung

PenulisGMKI Cabang Padang on 14/05/13 | Selasa, Mei 14, 2013



PADANG, BeritAnda - Kelompok Cipayung Kota Padang yang merupakan forum bersama lima organisasi mahasiswa terdiri dari GMKI, GMNI, HMI, PMII dan PMKRI Cabang Padang, menggelar camping bersama pada 3 hingga 5 Mei, di daerah Sungai Pisang, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang.
Menurut Koordinator Camping bersama Cipayung Kota Padang, Cahya Saputra Z mengatakan, camping Cipayung ini mengangkat tema Menyatukan dengan alam demi penguatan pergerakan Cipayung Kota Padang.
“Tujuan dari camping bersama kali ini lebih menitikberatkan memperkenalkan arah pergerakan Cipayung kepada seluruh anggota baru, serta mengakrabkan masing-masing anggota baru dan pengurus komisariat di tiap-tiap kampus di Kota Padang,” tuturnya.
Dalam camping tersebut, perserta akan diarahkan untuk lebih mengekspresikan diri dalam kegiatan diskusi membahas permasalahan yang ada, diperkenalkan praktek manajemen aksi, serta pada hari terakhir pelaksanaan camping, para peserta dan seluruh panitia akan melakukan pengabdian masyarakat sekitar areal camping, sebagai wujud implementasi dari kesepakatan pergerakan Cipayung.
“Kecintaan terhadap negara dan bangsa yang tumbuh dari generasi ini, adalah manivestasi dari kecintaan akan Indonesia di masa depan,” ungkap Cahya.
Dalam rangka membangun masa depan Indonesia, pembentukan dan pembinaan generasi pembangunan selaku generasi penerus adalah mutlak. Generasi pembangun memerlukan keberanian melihat dan menilai dasar-dasar pembangunan masa depan dan meninggalkan pola-pola lama, yang menghalangi usaha pembangunan masa depan yang baru. “Generasi pembangun tersebut harus mempunyai ciri-ciri khas yakni bebas dan terbuka, positif, kritis, dinamis, jujur, berdedikasi dan radikal mempergunakan ilmu dan teknologi dalam memecahkan persoalan-persoalan masyarakat, serta kesediaan mempersiapkan diri mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya.
Kelompok Cipayung merupakan forum bersama lima organisasi mahasiswa terdiri dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).
Pembentukannya disepakati di Cipayung, Jawa Barat, pada tanggal 22 Januari 1972 dengan ditandatanganinya kesepakatan Cipayung. (Fd)
http://www.beritanda.com/nusantara/sumatera/sumatera-barat/13289-sedikit-sekali-mahasiswa-tertarik-untuk-masuk-organisasi.html
Read more »»  

Formulir Maper I GMKI Padang 2013

PenulisGMKI Cabang Padang on 04/05/13 | Sabtu, Mei 04, 2013

Pencarian

Memuat...

Papan Informasi

Papan Informasi

Pengikut

Advertisements

Daftar Isi

Ruang Chating

Info Gempa Terkini

 

Copyright © 2015 - 2017. GMKI PADANG - BPC GMKI Padang MB 2015-2017 - All Rights Reserved
Desain dan Editing Badan Pengurus Cabang GMKI Padang
Powered By Blogger