(Bagaimana) GMKI Berpolitik - GMKI PADANG
Breaking News GMKI Padang:
Home » » (Bagaimana) GMKI Berpolitik

(Bagaimana) GMKI Berpolitik

PenulisGMKI Cabang Padang on 30/04/13 | Selasa, April 30, 2013

GMKI DAN POLITIK

(Pesan penggembalaan PP GMKI bagi civitas gerakan menghadapi tahun politik 2013)
Mendefenisikan politik secara teoritik akan melahirkan banyak tafsir. Hal itu akan sangat tergantung pada mazhab mana kita meninjaunya. atau pada tokoh/pakar yang mana kita gandrung mendalami dan memaknai politik. Meski demikian, pada akhirnya hampir semua teori dan praktek politik berkutat seputar kekuasaan dan mengelolah kekuasaan itu. Dalam pendekatannya sendiri, pendiri GMKI secara subtantif menjelaskan pemahamanannya tentang politik sebagai etika untuk melayani. Dengan demikian politik yang kita (GMKI) pahami sangat jauh sekali dari konsep kekuasaan sebagaimana dipahami oleh kebanyakan orang.
Sebelum melihat lebih jauh tentang agenda politik yang harus dan hendak kita lakukan menjelang pemilu 2014, mari kita mengurai terlebih dahulu agenda politik Yesus Kristus sebagai kepala Gerakan. Setelah Yesus menunaikan Puasa di Padang gurun ia kemudian datang ke Nazareth dan masuk ke rumah ibadat. Di sana Ia secara lantang dan tanpa keraguan menyatakan deklarasi politiknya. Tentunya konteks ini tidak bisa dilepaskan dari simbol perlawanan terhadap kekuasaan bangsa Romawi pada waktu itu. Terkesan berani dan provokatif terhadap pemerintah waktu itu. Ia menegaskanya agenda pembebasannya dan keberpihakannya kepada kaum yang lemah.
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19).
Ia menyampaikan pesan tersebut setelah melalui masa sulit dan sukar yaitu berpuasa di padang gurun. Bahkan pada masa – masa itu, Ia harus melalui masa pencobaan yang sangat berat. Membutuhkan telaah yang lebih fokus untuk mengurai kembali pencobaan yang telah dilewati oleh Yesus, namun poin utama kita pada bagian ini adalah Ia berhasil melewati semuanya. Artinya Ia tidak bersoal lagi dengan masalah moral dan relasi spiritualnya dengan Bapa di Sorga sebelum memulai pelayanannya. Ia menyampaikan agenda pembebasan, kabar baik dan tahun rahmat Tuhan tanpa harus takut kehilangan kekuasaan dan afiliasi politik dengan penguasa Romawi pada waktu itu.
Pada bagian lain, Ia menegaskan keberpihakanNya dalam pelayanan politik yang langsung kepada orang-orang terpinggirkan dan dilupakan. Ia mempersonifikasikan dirinya sebagai orang miskin, lapar, haus, tidak mempunyai pakaian bahkan sebagai orang yang membutuhkan tumpangan. Secara tegas Ia menyatakan bahwa dengan melayani kelompok-kelompok terlupakan seperti itulah maka kita telah melayani Dia. Yesus sadar dan tidak terlibat dalam perebutan kekuasaan. Ia menjelaskan dengan bahasa sederhana yang lebih mudah dipahami dengan uang persembahan yakni memberikan kepada kaisar yang kaisar punya dan kepada Allah apa yang harus diberikan padaNya (bdk Mat 22:21). Ia menjalankan politik moral pada satu sisi namun tidak mengatakan bahwa pemerintahan kaisar merupakan sesuatu yang salah dan tidak pantas diikuti. Justru Ia menegaskan bahwa ada bagian-bagian yang wajib dipenuhi kepada kaisar.
Tahun 2013 merupakan tahun politik bagi bangsa Indonesia. Jargon tersebut lahir karena memang tahun ini merupakan momentum bagi partai politik mengkonsolidasi diri menghadapi pemilihan umum tahun 2014. Ada dua agenda penting pemilihan umum Republik Indonesia pada tahun mendatang yakni pemilihan anggota Legislatif dan pemilihan presiden/wakil Presinden.  Meski pemilihan umum baru akan diselenggarakan pada tahun depan, namun tahapan formal proses politik pemilu sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang pemilu nomor 8 tahun 2012 sudah harus dimulai tahun ini bahkan sejak 2012 lalu.
Jika melihat amanat Undang-Undang tersebut, maka sekitar 6700 orang akan terlibat secara praktis sebagai calon anggota DPRI dan ribuan lainnya di tingkatan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Kebutuhan sumberdaya yang tergolong besar tersebut kadang kala memaksa partai politik untuk merekrutnya dari organisasi kemahasiswaan/kepemudaan/kemasyarakatan termasuk GMKI. Adalah kebanggaan bagi GMKI jika kader dan anggotanya dipandang sebagai sumber daya manusia yang handal untuk menjalankan peran-peran politik bagi perbaikan kehidupan masyarakat melalui jalur legislatif. GMKI memandang kesempatan tersebut sebagai momentum bagi kader GMKI untuk menjalankan peran profetisnya sekaligus menyampaikan suara kenabiannya.
Sebagai warga negara yang baik, GMKI (Anggota/kader) harus ada dan terlibat secara nyata dalam keseluruhan proses politik tersebut. Tanpa bermaksud mereduksi kualitas politik kekuasaan yang juga dijalankan oleh kaisar pada jamannya, maka keteladanan Yesus Kristus bisa menjadi pedoman bagi kita. Ia bahkan berani mengumandangkan agenda pembebasan dan keberpihakan kepada kaum lemah tanpa harus takut kehilangan afiliasi politik pada penguasa Romawi. Fungsionaris Pengurus Pusat dan Badan Pengurus Cabang serta Komisariat GMKI bukanlah Yesus Kristus yang sempurna itu. Tetapi GMKI yang menjalankan pelayanan-pelayanan Yesus di masa kini dipersonifikasikan oleh fungsionaris tersebut.
GMKI telah melahirkan sangat banyak kader untuk dipersiapkan menjadi pelaku politik yang  handal dan melayani. Dalam aktivitas organisasi dalam rangka penyiapan kader itu sering disebut sebagai panca kegiatan GMKI. Mereka dipersiapkan untuk memiliki kualitas iman, ilmu dan pengabdian yang tinggi. Mereka disiapkan dengan menjadi kader yang matang spiritualitas, integritas dan profesional mengerjakan tugas-tugasnya. Fungsionaris  bertanggungjawab penuh untuk melayani kader dan anggotanya itu selama dipersiapkan menuju medan layan. Keberhasilan fungsionaris pengurus tidak sekedar dilihat saat ia berhasil menggapai jabatan politik tertentu, tetapi juga sejauh mana ia mempersiapkan kader-kader  GMKI untuk menjawab panggilan pelayanan termasuk di bidang politik. Pada saat yang bersamaan, fungsionaris (PP/BPC/Komisariat) menjadi aktor utama lembaga dalam menyampaikan suara kenabiannya. Fungsionaris juga atas nama GMKI, harus berani menyampaikan pesan-pesan profetiknya tanpa harus takut kehilangan jabatan atau kehilangan afiliasi politik kekuasaan pribadinya. Fungsionaris sebagai personifikasi lembaga harus berani menyampaikan pesan politik moral dan seruan untuk kebenaran, keadilan bahkan keteladanan tanpa terganggu oleh kepentingan politik kekuasaan orang per orang tertentu. Arti salib bagi GMKI dalam lencana  organisasi adalah, bahwa GMKI harus berjuang dan berkorban untuk memperbaharui kehidupan  manusia dan masyarakat, menyelamatkan mereka- mereka  yang menderita, yang mendapat tekanan ekonomi, politik, dan pemerkosaan hak – hak asasi manusia, baik di tengah – tengah kehidupan, perguruan tinggi maupun  di tengah – tengah kehidupan masyarakat luas. Untuk menjalankan perjuangan itu secara maksimal maka akan sulit dilaksanakan jika ternyata tekanan ekonomi dan politik itu datang dari partai politik berkuasa dimana fungsionaris GMKI terafiliasi di dalamnya.
Salah satu kekhasan dari kader GMKI adalah integritas yakni selarasnya kata dan tindakannya. Saat menyatakan diri bersedia menjadi fungsionaris GMKI (Pengurus Pusat / Badan Pengurus Cabang / Komisariat), maka segala konsekuensi Masa Bakti telah dipikirkannya termasuk menghadapi momentum pemilu legislatif dan Presiden/Wakil Presiden. Mengambil komitmen dan konsisten menjalankannya adalah  sesuatu yang berat namun sangat mendasar bagi kader GMKI. Oleh karena itu, dalam situasi tahun politik sebagaimana dituliskan diatas haruslah fungsionaris menegaskan dirinya untuk konsisten pada komitmen awalnya melayani Tuhan sebagai fungsionaris GMKI atau menjadi satu dari banyak kader yang disiapkan untuk menyampaikan pesan profetik melalui jalur politik praktis dengan mengafiliasikan dirinya sebagai bagian dari anggota/pengurus partai politik atau menjadi calon anggota legislatif dan calon Presiden/Wakil Presiden dari partai politik tertentu.
Dalam Anggaran Dasar GMKI pasal 5 ayat (1) diterangkan secara fulgar bahwa organisasi ini adalah organisasi yang bersifat gerejawi dan tidak merupakan bagian dari organisasi politik. Sekali lagi bahwa personifikasi lembaga GMKI melekat pada diri fungsionarisnya. Sehingga tegasnya ialah, fungsionaris tersebut juga tidak merupakan bagian dari organisasi politik. Bersifat gerejawi artinya bahwa afiliasi resmi dari organisasi ini adalah Gereja. Gereja yang dimaksud ialah Gereja yang menjalankan panggilan kesaksian, persekutuan dan pelayanan dan GMKI menjadi bagian di dalamnya. Status  GMKI  dalam  hal ini  berarti bahwa GMKI adalah organisasi  mahasiswa yang  bersifat gerejani. Ia berafiliasi  dan seaspirasi dengan gereja karena dari sana ia lahir.  GMKI adalah bagian dari gereja itu sendiri yang berada di tengah  – tengah perguruan tinggi untuk melaksanakan tugas – tugas gereja.  Sekali lagi bahwa wibawa dan personifikasi dari organisasi GMKI terletak pada fungsionarisnya. Tafsir dan pandangan sejumlah anggota terhadap kemungkinan untuk terafiliasi dengan partai politik tertentu masih sering untuk diperdebatkan.  Jika kemungkinan itu ada maka saatnya belum sekarang untuk melegalkan afiliasi tersebut (setidaknya sebelum AD dirubah).
Dengan demikian ada dua jalur politik yang bisa diperankan oleh GMKI menghadapi tahun politik 2013 dan pemilu 2014. Keduanya yakni politik pada level moral (high politics) yang dikerjakan oleh lembaga melalui fungsionarisnya dan politik praktis (low politics) yang dikerjakan oleh kader-kadernya yang diutus menjadi anggota partai politik/calon anggota legislatif/DPD dan atau calon Presiden/Wakil Presiden. Politik  moral haruslah tidak terkait dengan kepentingan partai politik atau kepentingan politik tertentu. Dengan demikian harus dikerjakan oleh orang – orang yang bebas nilai dari partai politik tertentu. Melalui jalur ini, GMKI bisa menyuarakan kebenaran, keadilan serta keteladanan secara ideal tanpa terikat pada kepentingan kelompok/partai tertentu. Sementara itu, politik praktis dapatlah dikerjakan oleh anggota biasa/luar biasa dan kader GMKI yang tidak lagi terikat secara kelembagaan sebagai pengurus/fungsionaris. Berpolitik praktis (tidak pragmatis) bukanlah sesuatu yang salah sebagaimana Yesus mengakui keberadaan kaisar. Justru dengan berpolitik praktis tersebut, akan lebih banyak fungsi-fungsi profetik dan kenabian yang bisa kita jalankan.
Dari ulasan diatas, maka dengan ini diserukan kepada seluruh civitas GMKI di seluruh tanah air:
1.      Bagi anggota biasa/luar biasa yang mempunyai kapabilitas/kapasitas untuk menjadi anggota legislatif/DPD pada semua tingkatan atau presiden/wakil presiden agar mengambil bagian secara aktif dalam proses politik baik sebagai anggota partai politik, calon anggota legislatif/DPD maupun calon Presiden/Wakil Presiden tahun 2013/2014. Kader GMKI tetap harus melihat peran politik yang dilakukannya sebagai etika untuk melayani dan bukan untuk berkuasa. Tindakan tersebut perlu dipandang sebagai upaya melanjutkan perjuangan mengejawantahkan visi organisasi yakni: terwujudnya kedamaian, Kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih. Untuk proses ini perlulah kita semua saling menopang dalam doa dan daya yang kita miliki.
2.      Kepada Fungsionaris organisasi baik Pengurus Pusat, Badan Pengurus Cabang maupun Pengurus Komisariat untuk melakukan peran-peran profetik dan menyuarakan kebenaran, keadilan serta keteladanan pada level politik yang lebih tinggi, termasuk didalamnya dalam memberi pendidikan politik kepada masyarakat. GMKI baik secara kelembagaan maupun para pengurusnya memandang pemilihan umum 2014 sebagai momentum strategis untuk perbaikan bagi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Oleh karena itu, GMKI pada seluruh tingkatan perlu secara sadar dan aktif untuk melakukan pencerdasan dan pendidikan politik bagi masyarakat agar memilih wakil-wakilnya secara tepat dan bertanggungjawab.  Untuk melakukan peran-peran itu secara maksimal, maka fungsionaris tersebut tidak dibenarkan untuk terlibat maupun terafiliasi dengan partai politik atau kepentingan politik manapun.
3.      Mengingatkan kembali komitmen fungsionaris organisasi pada saat menyatakan kesiapan diri mengemban tugas pelayanan organisasi. Terlebih khusus pada siapa saja diantara kita yang diiming-imingi jabatan politik tertentu saat masih mengemban tugas pelayanan. Perlu diingat bahwa kita bukanlah orang pertama dan mungkin bukan orang yang terakhir menghadapi dilema tersebut. Pengalaman empirik sudah membuktikan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai kesempatan akan datang. GMKI yang telah menciptakan sangat banyak kader yang setia serta konsisten pada komitmennya dan ternyata berkat tersendiri sudah disediakanNya. Meski pilihan ini berat tetapi yakinlah bahwa kepala gerakan akan memampukan.
4.      GMKI secara kelembagaan baik tingkat pusat maupun tingkat cabang tidak terlibat dan tidak mendukung kepentingan politik baik orang per orang maupun partai politik tertentu manapun.
Demikianlah pesan ini kami sampaikan seraya tetap berdoa kiranya Tuhan Yesus menguatkan kita semua untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan secara baik. Teriring salam dan doa, Ut

Omnes Unum Sint!
Pengurus Pusat GMKI
Masa Bakti 2012-2014
Sumber : PP GMKI
Share this article :

Papan Informasi

Papan Informasi

Pengikut

Advertisements

Daftar Isi

Ruang Chating

Info Gempa Terkini

 

Copyright © 2015 - 2017. GMKI PADANG - BPC GMKI Padang MB 2015-2017 - All Rights Reserved
Desain dan Editing Badan Pengurus Cabang GMKI Padang
Powered By Blogger